Kamis, 10 Desember 2015

Sekolah Adiwiyata Mandiri

 Gambar.1. Taman Depan sekolah yang sangat indah.

SMP Negeri 24 Padang merupakan Sekolah Adiwiyata Mandiri tingkat Nasional yang pertama  di  Pulau Sumatera. Kami sebagai warga sekolah sangat bangga dengan prestasi yang sudah kami raih ini. Seluruh warga sekolah dengan kesadaran yang tinggi, semua aktif untuk menciptakan Sekolah yang peuli dengan Lingkungan.

 Gambar.2: Siswa goro mencat dinding yang sudah kotor.

            Setiap hari Sabtu kami melaksanakan Goro Bersama, yandikenal dengan istilah " SPL"
Pada saat ini semua kegiatan Adiwiyata berjalan serentak. Antara lain:
  1. Membersihkan lokal masing-masing serta taman yang dibimbing oleh Wali Kelas.
  2. Membuat Kompos dari sampah organik.
  3. Menata Green House
  4. Melakukan penyetoran sampah melalui Bank Sampah.
  5. Menata Daur ulang pada Galeri Daur Ulang dll.

 Gambar.3:Wali kelas Bersama Kepsek dan Siswa membenahi taman di depan kelas.


 Gambar.4 : Kunjungan sekolah lain, dalam rangka belajar membuat komposter.


Gambar.5 : Green House

Gambar .6 : Menata ruang Galeri Daur ulang

Untuk menciptakan lingkungan yang bersih, indah, sehat dan nyaman memang tidak mudah, karena dibutuhkan kesadaran yang tinggi dari semua warga sekolah, apalagi mendidik dan membiasakan siswa untuk menyadari arti pentingnya memelihara dan mencintai lingkungan.
Karena sekolah merupakan wadah tempat berlangsungnya proses pendidikan dan pengajaran, haruslah didukung dengan lingkungan yang indah dan bersih, sehingga proses pendidikan juga dapat berlangsung dengan baik.

DINAMIKA POPULASI

    

         

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
            Ekologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan makluk hidup dan lingkungannya. Bumi memiliki banyak sekali jenis-jenis mahkluk hidup, mulai dari tumbuhan dan binatang yang sangat kompleks hingga organisme yang sederhana seperti jamur, amuba dan bakteri. Meskipun demikian semua mahkluk hidup tanpa kecuali, tidak bisa hidup sendirian.
            Mempelajari ekologi sangat penting, karena masa depan kita sangat tergantung pada hubungan ekologi di seluruh dunia. Meskipun perubahan terjadi di tempat lain di bumi ini, namun akibatnya akan kita rasakan pada lingkungan di sekitar kita. Meskipun ekologi adalah cabang dari biologi, namun seorang ahli ekologi harus menguasai ilmu lain seperti kimia, fisika, dan ilmu komputer. Ekologi juga berhubungan dengan bidang ilmu-ilmu tertentu seperti geologi, meteorologi, dan oseanografi, guna mempelajari lingkungan dan hubungannya antara tanah, air, dan udara.
Ekologi berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan (peradaban) manusia, seorang yang belajar ekologi sebenarnya bertanya tentang berbagai hal berikut : bagaimana alam bekerja, bagaimana proses adaptasi dapat berlangsung, apa yang diperlukan oelh organisme dan apa pula yang dihasilkannya, bagaimana mereka berinteraksi dengan spesies lainnya, dan bagaimana individu-individu dalam spesies diatur sebagai populasi serta bagaimana pula eksotisme yang dimuculkan.

1.2 Tujuan Makalah
            Tujuan penulisan makalah ini adalah, untuk mengetahui dan memahami tentang:
1.      Struktur dan Dinamika Populasi
2.      Keberlangsungan hidup
3.      Populasi manusia
BAB II
STRUKTUR DAN DINAMIKA POPULASI

2.1 Pengertian  populasi
         Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada lingkungan tertentu dan pada waktu tertentu. Populasi merupakan satuan ekologi yang ditentukan secara arbiter dan dibatasi secara fisik oleh beberapa keadaan lingkungan yang kriterianya ditentukan oleh ahli ekologi atau peneliti yang bersangkutan. Ukuran populasi sering dinyatakan dalam kerapatan yang sangat
 sering menggunakan N untuk simbol kerapatan populasi.
         Pertumbuhan populasi merupakan proses sentral di dalam ekologi. Karena tidak ada populasi yang tumbuh secara terus menerus maka kita mengetrahui adanya pengaturan populasi. Interaksi spesies seperti predator, kompetisi, herbivory dan penyakit berdampak terhadap pertumbuhan, dan pertumbuhan populasi menghasilkan perubahan dalam struktur komunitas. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui bagaimana suatu populasi tumbuh.

A. Dinamika Populasi
            Dinamika Populasi ialah :Perubahan ukuran yang terjadi pada suatu populasi  dalam suatu habitat pada setiap waktu tertentu.
Perubahan-perubahan anggota populasi ini sangat penting diketahui oleh pengelola agar dapat mengaturnya untuk memperoleh suatu jumlah yang optimum sesuai dengan daya dukungnya.
Perubahan-perubahan anggota populasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Perubahan ukuran populasi yang tidak beraturan menurut skala waktunya, yang disebut dengan fluktuasi.
2.      Perubahan ukuran populasi yang beraturan dan tetap skala waktunya yang disebut dengan siklis.



Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan secara fluktuasi, diantaranya yaitu 
1.      Perubahan cuaca,
2.      Perubahan ketersediaan makanan
3.      Faktor pemburuan.
Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan populasi secara siklis, diantaranya :
1.      Interaksi,
2.      Stress,
3.      Makanan
4.      Genetik.
          Semua faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kelahiran, kematian dan migrasi. Sebenarnya agak sulit untuk membedakan secara pasti pengaruh yang diakibatkan oleh faktor-faktor yang menyebabkan perubahan populasi dalam kategori siklis tersebut, bahkan semuanya bekerja secara bersamaan.
          Populasi memiliki sifat-sifat (karakteristik) yang dapat diukur secara statistik dan bukan sifat daripada individu-individu penyusunnya, di antara sifat-sifat tersebut adalah :
a.  Densitas (kepadatan/ kerapatan),
b. Natalitas dan mortalitas,
c.  Distribusi umur,
d. Potensi biotic,
e.  Penyebaran dan bentuk pertumbuhan.

1. Densitas (Kepadatan)
          Densitas atau kepadatan adalah ukuran besarnya populasi dalam satuan ruang atau volume, yang pada umumnya ukuran besarnya populasi digambarkan dengan cacah individu, atau biomasa   populasi per satuan ruang atau volume.
Cara mengukur kepadatan populasi
1.      Menghitung langsung
2.      Tekniksampling (petak contoh)
3.      Indikator tidak langsung (feses, sarang, jejak, dll)
Densitas ( Kepadatan)





Rounded Rectangle: Kemampuan adaptasi
Menentukan ukuran populasi
Oval: Dinamika
Populasi

 
                                                                   
                                                                                                        
                                                                                            Ukuran Populasi (N)
                                                                                          Berubah menurut waktu
           
          Faktor – factor yang mempengaruhi ukuran populasi
Pertumbuhan Populasi Nol, ΔN = 0
2.Natalitas (Angka Kelahiran)
          Natalias adalah produksi individu-individu baru di dalam populasi melalui kelahiran, germinasi/pembelahan sel..
Natalitas merupakan kemampuan populasi untuk tumbuh.
Laju natalitas, laju kelahiran/birth rate pada demografi dipeoroleh dengan kelahiran, memetas, berkecambah, pembelahan dan sebagainya.
Natalitas ekologik atau natalitas sebenarnya atau biasa disebut Natalitas  adalah :
Kenaikan populasi dalam keadaan sebenarnya. Harganya tidak tetap tergantung keadaan lingkungan.

                                                Nn
            Natalitas Absolut =                             Nn =  Ʃ Individu baru
                                                  t                     Δt  =  waktu tertentu

                                      Nn
 Natalitas Spesifik  =              
                                                  N.Δt
Harga laju Natalitas selalu > 0  dan tidak pernah negative.Sedangkan N dapat positif maupun negative karena melibatkan natalitas, mortalitas, migrasi dan lainsebagainya.
3.Mortalitas (Angka Kematian )
          Mortalitas adalah jumlah individu dalam populasi yang mati selama periode  waktu tertentu.
Laju Mortalitas  ialah laju kematian dalam demografi ialah: Jumlah individu yang mati suatu waktu tertentu ( kematian per waktu).
1. Mortalitas Ekologik (nyata/realita) yaitu: Jumlah individu yang mati dalam keadaan lingkungan  normal  pada waktu tertentu.
2. Mortalitas minimum (teoritis) yaitu: Jumlah kehingan individu pada suatu populasi dalam keadaan lingkungan yang ideal.

             
4.Struktur umur
Struktur umur adalah sifat populasi yang penting mempengaruhi baik natalitas maupun mortalitas. Mortalitas biasanya berbeda menurut umur dan kemampuan berkembangbiak  terbatas pada kelompok umur tertentu.
5. Potensi biotik
            Potensi biotic adalah potensi mengenai jumlah populasi dalam suatu wilayah/ekosistem yang dipengaruhi faktor hidup, meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan.
6. Penyebaran/perpindahan populasi
Penyebaran atau perpindahan yaitu pergerakan individu-individu atau alat-alat pembiakannya masuk atau keluar suatu populasi atau daerah populasi, turut mempengaruhi bentuk pertumbuhan serta kepadatan populasi bersangkutan bersama-sama dengan natalitas dan mortalitas. Ada tiga penyebaran/perpindahan populasi yaitu (1) emigrasi yaitu pergerakan keluar, (2) imigrasi  pergerakan ke dalam dan yang (3) migrasi yaitu pergi (keluar) dan kembali (masuk secara periodic).
B. Pertumbuhan Populasi
           Pertumbuhan populasi ditandai dengan adanya perubahan jumlah populasi disetiap waktu. Perubahan ini biasanya dipengaruhi oleh jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Terdapat beberapa model pertumbuhan, namun yang akan dibahas adalah model pertumbuhan kontinu dan model matriks.
1. Model Kontinu atau Continuous Time
               Model Kontinu atau Continuous Time adalah model yang digunakan untuk menentukan jumlah tumbuhan yang ada dalam beberapa waktu mendatang. Pada model ini individu berkembang tidak dibatasi oleh lingkungan seperti kompetisi dan keterbatasan akan suplai makanan. Laju perubahan populasi dapat dihitung jika banyaknya kelahiran, kematian dan migrasi diketahui. Prediksi bahwa jumlah populasi akan tumbuh secara kontinu pertama kali dicetuskan oleh Malthus (1798). Dinamika populasi dapat di aproksimasi dengan model ini hanya untuk periode waktu yang pendek saja.
Model Kontinu dapat diakumulasikan menggunakan persamaan :
                      Nt + Dt = Nt + B + I – D - E
          Nt            : jumlah populasi tumbuhan yang ada dalam waktu t.
           B              : jumlah kelahiran per satuan waktu
           I               : jumlah kedatangan per satuan waktu
          D              : jumlah kematian persatuan waktu
          E               : jumlah populasi yang keluar per satuan waktu.
          Nt + Dt     : jumlah populasi pada waktu t+Dt.
 2. Model Matriks
Model matriks adalah suatu model yang mengizinkan penentuan pertumbuhan populasi dalam tumbuhan dengan perhitungan periode waktu tegas dan fase yang dapat ditentukan dari searah hidup tumbuhan.
  1. Matriks yang terdiri dari kolom tunggal diacu sebagai matriks kolom.                                                                                                             Kita dapat membuat matriks kolom yang memperlihatkan jumlah individu dan tiap stadia perkembangan. Misalnya biji (N), dalam bank biji. Jimlah tumbuhan dalam bnetuk roset (N) dan jumlah tumbuhan dalam fase berbunga ( N+ ).
       2. Matriks Transisi

           Suatu matriks transisi untuk tiga stadia pertumbuhan adalah bentuk segi
           empat dan terdiri atas group nilai probabilitas yang menyajikan perubahan
            dimana tambuhan dalam stadia perkembangang tertentu akan sampai
            stadium perkembangan yang berbeda (atau tetap tinggal sama) selama
            waktu antara tanggal sensus populasi.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan Populasi               
   a. Daya dukung (Carrying Capasity)      
       Dengan adanya berbagai pembatasan yang ada, kita dapat memperkirakan

     bahwa lingkungan mempunyai daya dukung, yaitu jumlah individual spesies
     yang dapat ditunjang oleh lingkungan. Daya dukung dapat ditentukan tidak
     hanya oleh jumlah individu dalam populasi,tetapi juga oleh ukuran dan laju
     pertumbuhan individu dalam populasi.
Teori demografi klasik memakai umur sebagai dasar untuk perkiraan
 kesuburan dan survivorship, namun umur tidak dapat menjadi indicator
 status reproduktif
 Dalam tumbuhan. ada 2 alasan pokok untuk ini, yaitu :
      -  Ukuran tidak perlu berkolerasi dengan umur
      -  Banyak tumbuhan akan berbunga bila mereka mencapai ukuran
         tertentu tanpa memandang umurnya.
Daya Dukung (carrying capasity) Lingkungan



Rounded Rectangle: Daya dukung lingkungan: jumlah individu suatu opulasi yangpopulasiyang dapat didukung olehhabitat
 




              



Rounded Rectangle: dNdt=rN(K -N)K
 




                   Nilai K dalam grafik sekitar 1.6 juta
                   K =daya dukung lingkungan
b. Peraturan Populasi Dependen Densitas
            Peraturan populsi dependen densitas ialah: jumlah individu per satuan area tertentu yang keberadaannya dipengaruhi oleh keadaan2 yang mempengaruhinya
c. Populasi Dependen Lebat.
            Populasi dependen lebat ialah: Populasi dependen lebat adalah ukuran populasi yang selalu bertambah seperti yang diramal oleh kebanyakan model pertumbuhan populasi, populasi ini bergantung pada dependen densitas yang berubah dalam survival atau laju produksi karena jumlah populasi menjadi lebih besar. Kita tahu bahwa hukum Yield konstan di mana tumbuhan bertanggap terhadap kelebatan tidak hanya oleh densitas tetapi juga terhadap individu. Hal ini lebih akurat untuk mengatakan bahwa populasi tumbuhan lebih bersifat dependen lebat daripada dependen densitas.d. Stadia VS Umur
d.Teori demografi klasik
Teori Demografi Klasik memakai umur sebagai dasar untuk perkiraan kesuburan dan survivorship, namun umur tidak dapat menjadi indicator  status reproduktif
Dalam tumbuhan. ada 2 alasan pokok untuk ini, yaitu :
 -  Ukuran tidak perlu berkolerasi dengan umur
 -  Banyak tumbuhan akan berbunga bila mereka mencapai ukuran  tertentu tanpa
    memandang umurnya
e. Tabel Hidup
Ada dua macam tabel hidup tergantung lama hidup individu dalam populasi :
1.      Suatu tabel dinamis. Digunakan pengamat untuk mengikuti pertumbuhan perkecambahan pada waktu tertentu sampai semua individu mati
2.      Tabel hidup statis. Tabel yang mengukur struktur umur suatu populasi untuk memperkirakan pola survival berbagai grup umur pada suatu populasi.
a.       Tipe 1: kurva survivorship adalah karakteristik organisme dengan mortalitas rendah dalam stadia muda dan mortalitas cepat dalam umur tua.
b.      Tipe 2 : garis lurus, dimana probabilitas kematian pada pokoknya sama pada sembarang umur.
c.       Tipe 3 : tipikal organisme yang mempunyai laju mortalitas muda tinggi.
f. Fekunditas
              Biasa juga disebut umur spesifik laju kelahiran individu atau natalitas yang diukur dengan menghitung jumlah total biji yang dihasilkan selama tiap interval umur dan dibagi dengan jumlah individu yang hidup.
Pertumbuhan populasi merupakan proses sentral di dalam ekologi. Karena tidak ada populasi yang tumbuh secara terus menerus maka kita mengetrahui adanya pengaturan populasi. Interaksi spesies seperti predator, kompetisi, herbivory dan penyakit berdampak terhadap pertumbuhan, dan pertumbuhan populasi menghasilkan perubahan dalam struktur komunitas. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui bagaimana suatu populasi tumbuh.
            Populasi memiliki sifat-sifat (karakteristik) yang dapat diukur secara statistik dan bukan sifat daripada individu-individu penyusunnya, di antara sifat-sifat tersebut adalah kepadatan, natalitas dan mortalitas, distribusi umur, potensi biotic, penyebaran dan bentuk pertumbuhan.


















BAB III
KESIMPULAN
 Populasi merupakan proses sentral di dalam ekologi. Karena tidak ada populasi yang tumbuh secara terus menerus maka kita mengetrahui adanya pengaturan populasi. Interaksi spesies seperti predator, kompetisi, herbivory dan penyakit berdampak terhadap pertumbuhan, dan pertumbuhan populasi menghasilkan perubahan dalam struktur komunitas. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui bagaimana suatu populasi tumbuh.
             Populasi memiliki sifat-sifat (karakteristik) yang dapat diukur secara statistik dan bukan sifat daripada individu-individu penyusunnya, di antara sifat-sifat tersebut adalah kepadatan, natalitas dan mortalitas, distribusi umur, potensi biotic, penyebaran dan bentuk pertumbuhan.












DAFTAR PUSTAKA

Suwasono Heddy,Metty Kurniati,1996,Prinsip-prinsip Dasar Ekologi,PT Raja 
         Grafindo Persada, Jakarta Utara.
Anugerah Nontji,1993” Laut Nusantara” Djambatan, Jakarta
Eugene P Odum, 1996 ” Dsar-Dasar Ekologi” Gadjah Mada University Press,
         Jogyakarta
Rifqi, MA. Ekologi Dasar; Keterbatasan, Komunitas, Nich, dan Suksesi. /journal
          Seri_Ekologi. Tanggal Akses 09 April 2009.
































Lumowa, sonja V.T. 2012 . Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas    mulawarman:samarinda
Djara Dedhy, 2011. Makalah Ekologi Tumbuhan.
Rcklefs Robert,Miller Gary L.1999:ECOLOGY,Fourth Edition
Robert W,Hegner Ph.D,Sc.D, Karl A.Stiles,M,S,Ph.D 1998:COLLEGE
           ZOOLOGY.



















Kesimpulan

























 DAFTAR PUSTAKA   

Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mahkota dewa merupakan salah satu tanaman berkhasiat obat yang memiliki banyak manfaat. Sosok tanaman mahkota dewa berupa perdu dengan tajuk bercabang-cabang. Umurnya dapat  mencapai puluhan tahun dengan masa produktifitas  mencapai 10-20 tahun.
           Mahkota dewa biasa  ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias atau dikebun – kebun sebagai tanaman peneduh. Asal tanaman mahkota dewa masih belum diketahui dengan jelas. Menilik nama botaninya Phaleria papuana, banyak orang memperkirakan tanaman ini berasal dari tanah Papua, Irian Jaya.
Menurut buku Flora of Java terbitan NVP Noordhoff, Groningen, Belanda.hoff, Groningen, Belanda mahkota dewa berasal dari Papua Nugini. Selain itu, karena ukuran buah relatif besar, para ahli botani lebih suka menyebutnya Phaleria macrocarpa (macro=besar). Dalam perkembangan selanjutnya anggota famili Thymelaeaceae ini banyak dibudidayakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mereka menyebutnya makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menjuluki raja obat.
Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah yang gembur dan subur pada ketinggian 10 -1.200 m dpl .Perdu menahun ini tumbuh tegak dengan tinggi
1 – 2,5 m. Daun mahkota dewa dapat dihasilkan sepanjang tahun sedangkan buahnya tidak berbuah sepanjang tahun dan buah tumbuhan ini dapat digunakan setelah masak atau berwarna merah. Daun dan buah tumbuhan mahkota dewa merupakan tanaman obat. (Dalimartha, 2004).
Saat ini Mahkota dewa merupakan salah satu obat tradisional yang mulai populer di masyarakat yang khasiatnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya Diabetes Melitus (DM), anti oksidan, anti inflamasi dan masih banyak lagi khasiat Mahkota Dewa bagi beberapa penyakit.



1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang:
1.      Klasifikasi
2.      Morfologi dan Anatomi
3.      Budi daya
4.      Hama dan penyakit
5.      Manfaat untuk kesehatan
6.      Zat kimia yang terkandung di dalam Mahkota dewa




















  
Bab II
PEMBAHASAN



 1.SISTEMATIKA TUMBUHAN MAHKOTA DEWA

         Sistematika tumbuhan mahkota dewa adalah sebagai berikut:.

Kingdom        :  Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  :  Tracheobionta (Tumbuhan  berpembuluh)
Super Divisi   :  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi              :  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              :  Magnoliopsida (berkeping  dua/dikoti)l
Sub Kelas       :  Rosidae
Ordo               :  Myrtales
Famili             :  Thymelaeaceae
Genus             :  Phaleria
Spesies           :  Phaleria macrocarpa
Nama Daerah  Melayu   : Simalakama
                         Jawa       : Makuto rojo

2. MORFOLOGI  DAN ANATOMI  TANAMAN MAHKOTA DEWA
Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (elative), tinggi 1 – 2,5 m
                    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKYwrfkbv4GwSLTEpGPcdhtU6B8SHY7bFr-d3W_-vag-u-Yg9mcZjGPmmlizLy2PltIOgabC37OFW9AcbZCKlrLu_HJeyTUi0WEev0Zu-VZDw7zqSySkSIdAwCc-ZPWaIZHv682CCuAdo/s320/makotadewa.bmp
Gb. Mahkota Dewa sedang berbuah, buahnya masih berwarna hijau yang berarti masih mentah.

1.Pohon
         Pohon Mahkota Dewa sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohonnya bercabang-cabang. Ketinggian pohon rata – rata sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, ela mencapai tinggi lima meter. Mahkota dewa ela sampai berumur puluhan tahun.

2. Akar

Karena Mahkota dewa merupakan tumbuhan Dikotil, maka akarnya adalah akar tunggang dan tersusun atas epidermis, korteks, pembuluh angkut ( Xylem dan Floem) serta empulur.

 
Gambar. Akar tunggang                                    Gb. Penampang akar

3.Batang
          Batang pohon Mahkota Dewa terdiri dari kulit dan kayu (Lignosus). Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batang pohon ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak.






Gb.Percabangan simpodial

Gb. Penampang akar Mahkota Dewa .


Gb. Penampang batang Mahkota Kota
3.Daun
Daunnya tunggal, letaknya  tersusun berhadapan ( folia oposita) bertangkai pendek, bentuknya lanset atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate),permukaan licin, warnya hijau tua, panjang
7-10 cm , lebar 2 – 2,5 cm.
Daun muda warna hijaunya lebih pucat.

Gb. Daun Mahkota dewa
Gb.Penampang daun Mahkota Dewa

Gb. Penampang daun dikotil, Mahkota dewa

4. Bunga
Bunga Mahkota Dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2 – 4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun. Bunga berwarna putih. Bentuknya seperti terompet kecil dan mengeluarkan bau yang harum. Bunga ini mempunyai ukuran sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan.

Bunga majemuk yang tersusun atas 2 -4 bunga,keluar sepanjang tahun, letaknya tersebar di batang atau ketiak daun,mahkota ber- bentuk tabung (tubulosis), berukuran kecil, berwarna putih dan harum (Anonim, 2009).
Merupakan bunga sempurna dan bunga lengkap.


G

Gb. Morologi bunga mahkota dewa
Struktur bunga Mahkota dewa.
·         Bunga simetris nradial
·         Memiliki kepala putik dan benang sari 8 – 10 melekat pada mahkota
·         Kelopak (Calix) bunga kecil 4 buah
·         Mahkota (Corolla) bewarna putih berlekatan 4 buah
 
Gb.Struktur bunga Mahkota dewa
Rumus Bunga :
5.Buah
        Buah mahkota dewa bentuknya bulat dengan diameter 3-5 cm. Permukaan buah licin, dan beralur. Ketika muda, warna buah hijau dan setelah masak, warnanya berubah menjadi merah marun. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji. Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah.

Gb. Buah mahkota yang muda bewarna hijau dan masak bewarna merah

Gb. Epidermis buah yang masak




Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.
Ketebalan kulit sekitar 0,5-1mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah.
Gb. Daging buah, bewarna putih dan tebal

          Cangkang buah adalah batok pada buah. Jadi, cangkang merupakan bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih dan ketebalannya ela mencapai 2mm. Rasa cangkang buah sepat-sepat pahit, tetapi setelah matang rasanya sepat-sepat manis.

Gb. Cangkang buah Mahkota dewa




4.      Biji
       Biji mahkota dewa merupakan bagian yang paling beracun, biji buah berbentuk bulat, dan berwarna putih dibungkos oleh suatu selaput yang bewarna coklat. Diameternya mencapai 2cm. (Turyanto : 2009)
 


Gb. Biji Mahkota dewa

3. BUDI  DAYA TANAMAN MAHKOTA DEWA
          Beberapa mahkota dewa memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya sebagai salah satu tanaman obat yang mendapatkan porsi sangat penting untuk terus dikembangkan. Membudidayakan mahkota dewa tidak sulit. Tanaman ini dapat hidup dengan baik di daerah beriklim tropis. Dengan produksi buah yang tidak mengenal musim, menjadikan mahkota dewa sebagai penambah pendapatan bagi pembudidayaan asalkan dilakukan secara intensif dan elativeel.
          Mahkota dewa dapat dibudidayakan pada ketinggian 10-1200 Mdpl. Lokasi pembudidayaannya sebaiknya di daerah yang jauh dari polusi. Hal ini dilakukan agar tanaman tidak tercemar oleh elati-unsur polutan berupa logam berat, arsen, dll. Untuk kegiatan konservasi tanah, mahkota dewa dapat ditanam di bibir teras pengolahan lahan. Tujuannya, adalah sebagai tanaman penguat teras, menghindari erosi, dan longsor.
         Selain itu, penanaman mahkota dewa dapat ditumpangsari dengan tanaman obat lain. Dalam budidaya mahkota dewa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari resiko yang tidak diinginkan, yaitu pengolahan lahan, pengadaan bibit, penanaman, perawatan, panen,dan pasca panen (Winarto, 2003).
        Mahkota dewa dapat dikembangbiakkan secara elativee dan elativee. Cara elativee dengan menggunakan stek atau cangkok, sedangkan elativee dengan dengan biji. Dan Cara pembiakan elativee atau penyemaian dengan biji biasanya membutuhkan waktu yang lama, tetapi dapat dibiakkan dalam jumlah yang banyak dengan pertumbuhan yang seragam serta memiliki perakaran yang kuat agar tanaman tidak mudah roboh.
      Sedangkan cara pembiakan elativee lebih cepat dengan sifat yang sama dengan induknya. Akan tetapi, pembiakan elativee jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya rendah (Winarto, 2003). Oleh karena itu, untuk saat ini cara yang dianjurkan adalah pembibitam dengan biji. Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit yang ditanam.

Secara umum media tanam yang digunakan haruslah mempunyai sifat yang ringan, murah, mudah didapat, gembur dan subur, sehingga   memungkinkan
pertumbuhan bibit yang optimum.

A.Pengolahan Tanah
        Tanah lebih dulu digemburkan serta diberi pupuk dasar yang berupa pupuk kandang. Takaran pupuk kandang yang diberikan adalah 20ton/ha. Sebagai tanaman keras, mahkota dewa membutuhkan membutuhkan lubang tanam. Lubang tanam digali (30x 30x30 ) cm. Tanah galian ditumpuk terpisah antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama minimal seminggu agar terkena udara luar, sinar matahari, dan hujan.

B. Pengadaan Bibit
          Salah satu aspek penting dalam budidaya mahkota dewa adalah penyiapan bibit. Bibit yang baik akan memberikan hasil yang baik pula selain didukung oleh elati lain. Dalam budidaya mahkota dewa, ada dua jenis bibit yang dapat digunakan, yaitu bibit dari fase elativee (biji) dan bibit dari fase vegetative (stek batang atau cangkok).

C. Penanaman
            Penanaman mahkota dewa tidak tergantung musim, meski demikian, perawatan tanaman merupakan kegiatan yang harus dilakukan setiap petani, terlebih bila usaha budidaya tersebut berorientasi pada hasil yang baik

D. Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak normal untuk  digantikan dengan tanaman yang baik

E. Pemupukan
Pada prinsipnya pupuk yang diberikan pada tanaman obat dianjurkan berasal dari bahan alami atau pupuk elativ seperti pupuk bokasi.
 Penggunaan pupuk kimia atau anorganik tidak dianjurkan karena menimbulkan residu kimia yang dapat muncul pada buah. Padahal buah mahkota dewa dimanfaatkan sebagai bahan obat. Tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan penggunaannya

F. Penyiraman
         Penyiraman perlu dilakukan pada saat tanam dan sesudah tanam saat tanaman masih kecil. Hanya saja bila hari hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan. Setelah tanaman berumur 6 bulan sesudah tanam, penyiraman elative tidak diperlukan karena jangkauan perakarannya sudah dalam.

G. Penyiangan
          Penyiangan harus dilakukan secara berkala sepanjang tahun karena mahkota dewa termasuk tanaman tahunan. Penyiangan dilakukan melihat gulma yang tumbuh di sekitar tanaman. Umumnya penyiangan pada mahkota dewa
dilakukan 3-4 kali.

4. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MAHKOTA DEWA
          Mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Hama ulat buah memang masih jarang menyerang tanaman mahkota dewa. Sampai saat ini belum ada penelitian atau hasil pengamatan yang menyimpulkan adanya serangan penyakit-penyakit penting pada tanaman mahkota dewa.
         Beberapa gejala serangan penyakit seperti busuk buah oleh jamur Phytoptora infestans memang terkadang tampak, tetapi masih sangat terbatas dan kemunculannya sering disebabkan oleh tanaman yang terlalu banyak ternaungi. Sementara penyakit lain belum pernah tercatat atau dilaporkan.
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman mahkota dewa disarankan dengan pengendalian terpadu dan mengurangi penggunaan pestisida anorganik karena
dikhawatirkan akan menimbulkan efek farmakologis pada tanaman dan
 mengurangi kualitas simplisia yang dihasilkan.
Hama pada Mahkota dewa berupa::
1.      Ulat ( larva) serangga dari jenis  Heortia vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae)
2.       Jamur
3.       Kutu dompol atau kutu putih (Planococus lepelleyi)
 
Gb. Larva serangga Heortia vitessoides Moore
Gb. Kutu dompol atau kutu putih (Planococus lepelleyi)

5.MANFAAT MAHKOTA DEWA BAGI KESEHATAN
         Sebagian masyarakat telah mengetahui manfaat buah mahkota dewa, tetapi belum mengetahui kegunaan dari daunnya. Khasiat dari daun tumbuhan mahkota dewa dapat mengobati penyakit seperti: kanker, tumor, diabetes (kencing manis), pembengkakan prostad, asam urat, darah tinggi (hipertensi), reumatik, batu ginjal, hepatitis, dan penyakit jantung. (Harmanto, 2001).
         Dosis efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya. Untuk penyakit berat seperti kanker dan psoriaris, dosis pemakaian
kadang harus lebih besar agar mendapat manfaat perbaikan. Efek samping yang timbul harus diperhatikan. (Dalimartha, 2004)
.
6.KANDUNGAN KIMIAWI DAN MANFAAT DALAM MAHKOTA DEWA

a. Senyawa Metabolit Sekunder ( Alkaloid, Saponin, Polifenol dan Etanol)
Menurut Kumalaningsih (2008) ekstrak daun Mahkota Dewa mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah alkoloid, saponin dan polifenol. Sementara itu kulit buahnya mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid.
Fungsi dari zat – zat tersebut adalah :
- Alkaloid : bersifat detoksifikan yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh.
- Saponin : yang bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, dapat  
    meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas dan mengurangi
    kadar gula dalam darah.
- Flavonoid : melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
    terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan
    kolesterol serta mengurangi penimbunan lemak pada dinding pembuluh darah,
    mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner, mengandung antiinflamasi
(antiradang) dan berfungsi sebagai anti-oksidan.

b. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antihistamin
       Penelitian lain mengenai Mahkota Dewa dilakukan oleh Dr. Regina Sumastuti. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa buah Mahkota Dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi, misalnya aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal,
 selesma, dan sesak napas (Sumastuti 2007).

c. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antiradang
         Kandungan Mahkota Dewa juga dapat efektif berfungsi sebagai antiradang (antiinflamasi). Telah diteliti aktivitas antiradang ekstrak n-heksan, etilasetat, etanol dan air buah mahkota dewa dengan dosis 15 mg/kg bb dan 30 mg/kg bb dan isolatnya pada tikus betina galur Wistar (menggunakan λ-karagenan sebagai penginduksi radang). Ekstrak dibuat secara refluks bertingkat menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat, etanol dan air. Ekstrak etanol dengan dosis 30 mg/kg bb menunjukkan aktivitas menghambat radang paling kuat ( Mariani, 2005).

d. Mahkota Dewa Sebagai Zat Oxytosin
         Penelitian yang dilakukan oleh Sumastuti (2007) juga membuktikan bahwa ekstrak buah tanaman Mahkota Dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.

e. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antikanker
          Sebagai tanaman obat, telah banyak dilakukan penelitian untuk menguji kemampuan Mahkota Dewa sebagai obat untuk terapi kanker. Berikut ini adalah beberapa kandungan senyawa dalam Mahkota Dewa yang diteliti untuk melawan kanker.

(1)Ribosome Inactivating Proteins (RIPs)
       Kandungan lain dari Mahkota Dewa yang memiliki kemampuan sebagai penyembuh adalah protein yang disebut sebagai Ribosome Inactivating Proteins (RIPs). Menurut Sismindari (2008), RIPs ini merupakan sekelompok protein toksik dalam tanaman yang mempunyai aktivitas RNA-glycosidase, yaitu kemampuan untuk menghambat sintesis protein pada mamalia. RIPs mempunyai kemampuan memotong DNA superkoil. Adanya aktivitas tersebut menjadikan RIPs sebagai kandidat yang potensial dalam terapi kanker.

(2) Senyawa Gillic Acid (GA)
          Penelitian yang juga mendukung kemampuan Mahkota Dewa dalam mengatasai penyakit kanker dilakukan oleh Faried, et.al (2006). Disebutkan disana bahwa senyawa Gallic Acid yang diisolasi dari buah tanaman Mahkota Dewa menunjukkan hasil yang signifikan dalam menghambat proliferasi sel kanker TE-2
         Dalam percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sel kanker yang diinduksi dengan senyawa GA akan mengalami perubahan morfologi setelah pengamatan 12 jam. Sedangkan induksi terhadap sel non kanker tidak menunjukkan adanya perubahan setelah pengamatan selama 48 jam. Dari hal tersebut disimpulkan bahwa Gillic Acid dari Mahkota Dewa merupakan kandidat
potensial untuk pengobatan penyakit kanker.

(3) Senyawa Etanol
          Sementara itu Bakhriansyah (2004) mengatakan bahwa dalam ekstrak biji tanaman Mahkota Dewa terkandung senyawa Etanol yang bersifat sitotoksik. Uji aktivitas sitotoksik ekstrak Etanol biji Mahkota Dewa pada kultur sel kanker payudara T47D dilakukan dengan metode triphan blue dan diamati secara visual setelah diinkubasi dengan selama 24 jam. Aktivitas penghambatan proliferasi diamati secara visual setelah diinkubasi selama 24, 48 dan 72 jam.
Ekspresi protein COX-2 diamati dengan pengecatan secara imunohistokimia setelah sel diinkubasi selama 24 jam. Dalam percobaan ini didapatkan hasil bahwa senyawa Etanol dapat menghambat proliferasi sel kanker payudara T47D melalui
 penghambatan ekspresi protein COX-2.

f. Mahkota Dewa Untuk Mengobati Diabetes Mellitus
          Penelitian mengenai kemampuan Mahkota Dewa dalam menurunkan gula darah dilakukan oleh Santoso dkk (2006). Percobaan ini menggunakan rebusan daging buah Mahkota Dewa dan menggunakan tikus putih. Hasil yang diperoleh menunjukkan hasil bahwa rebusan daging mahkota Dewa dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Hasil yang serupa juga ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Sugiwati et al. (2006).
          Penurunan kadar glukosa darah akibat perlakuan Mahkota Dewa dapat dijelaskan melalui dua mekanisme utama, yaitu secara intra pankreatik dan ekstra pankreatik.
Mekanisme intra pankreatik bekerja dengan cara memperbaiki (regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta merangsang pelepasan insulin. Kemampuan ini dimiliki oleh alkaloid dan flavonoid. Alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang rusak. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas.
          Mekanisme ekstra pankreatik dapat berlangsung melalui berbagai mekanisme. Alkaloid menurunkan glukosa darah dengan cara menghambat absorbsi glukosa di usus, meningkatkan transportrasi glukosa di dalam darah merangsang sintesis glikogen dan menghambat sintesis gluksoa dengan menghambat enzim glukosa 6-fosfatase, fruktosa 1,6-bifosfatase serta meningkatkan oksidasi glukosa melalui glukosa 6-fosfat dehidrogenase.
         Glukosa 6-fosfatase dan fruktosa 1,6-bifosfatase merupakan enzim yang berperan dalam glukoneogenesis. Penghambatan pada kedua enzim ini akan menurunkan pembentukan glukosa dari substrat lain selain karbohidrat.

























BAB III
 KESIMPULAN

          Tumbuhan Mahkota Dewa ( Phaleria macrocarpa) merupakan tumbuham perdu,  yang yang berkembang biak secara generative dengan biji atau dapat juga secara vegetative dengan cangkok.
Tanaman ini banyak terdapat di Papua Irian Jaya. Ditanam sebagai hiasan atau pohon pelindung dikebun-kebun.
        Mahkota Dewa banyak mengandung zat –zat kimia yang sangat berguna untuk mencegah beberapa penyakit berbahaya, seperti: kanker, diabetes mellitus, asam urat, dan lain sebagainya.
Dosis efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya.
















DATAR PUSTAKA

1.Erlan (2005), Pengaruh Berbagai Media Terhadap Pertumbuhan Bibit
            Mahkota Dewa – Phaleria macrocarpa, di Polibag, Jurnal Akta Agrosia
            Vol. 7 No.2 hlm 72-75 Jul - Des 2005.
2.Kumalaningsih, Sri (2008), Mahkota Dewa Sumber Super Oksidan Dismutase
            (SOD), dalam http://www.antioxidantcentre.com/
3. Sumastuti, Regina (2007), Mahkota Dewa, dalam http://www.tanaman
4. Pudjaatmaka,A.H dan Meity Takdir. 1999. Kamus kimia. Balai Pustaka. Jakarta.