Kamis, 10 Desember 2015

Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)



PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mahkota dewa merupakan salah satu tanaman berkhasiat obat yang memiliki banyak manfaat. Sosok tanaman mahkota dewa berupa perdu dengan tajuk bercabang-cabang. Umurnya dapat  mencapai puluhan tahun dengan masa produktifitas  mencapai 10-20 tahun.
           Mahkota dewa biasa  ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias atau dikebun – kebun sebagai tanaman peneduh. Asal tanaman mahkota dewa masih belum diketahui dengan jelas. Menilik nama botaninya Phaleria papuana, banyak orang memperkirakan tanaman ini berasal dari tanah Papua, Irian Jaya.
Menurut buku Flora of Java terbitan NVP Noordhoff, Groningen, Belanda.hoff, Groningen, Belanda mahkota dewa berasal dari Papua Nugini. Selain itu, karena ukuran buah relatif besar, para ahli botani lebih suka menyebutnya Phaleria macrocarpa (macro=besar). Dalam perkembangan selanjutnya anggota famili Thymelaeaceae ini banyak dibudidayakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mereka menyebutnya makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menjuluki raja obat.
Tanaman ini dapat tumbuh subur di tanah yang gembur dan subur pada ketinggian 10 -1.200 m dpl .Perdu menahun ini tumbuh tegak dengan tinggi
1 – 2,5 m. Daun mahkota dewa dapat dihasilkan sepanjang tahun sedangkan buahnya tidak berbuah sepanjang tahun dan buah tumbuhan ini dapat digunakan setelah masak atau berwarna merah. Daun dan buah tumbuhan mahkota dewa merupakan tanaman obat. (Dalimartha, 2004).
Saat ini Mahkota dewa merupakan salah satu obat tradisional yang mulai populer di masyarakat yang khasiatnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya Diabetes Melitus (DM), anti oksidan, anti inflamasi dan masih banyak lagi khasiat Mahkota Dewa bagi beberapa penyakit.



1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang:
1.      Klasifikasi
2.      Morfologi dan Anatomi
3.      Budi daya
4.      Hama dan penyakit
5.      Manfaat untuk kesehatan
6.      Zat kimia yang terkandung di dalam Mahkota dewa




















  
Bab II
PEMBAHASAN



 1.SISTEMATIKA TUMBUHAN MAHKOTA DEWA

         Sistematika tumbuhan mahkota dewa adalah sebagai berikut:.

Kingdom        :  Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  :  Tracheobionta (Tumbuhan  berpembuluh)
Super Divisi   :  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi              :  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              :  Magnoliopsida (berkeping  dua/dikoti)l
Sub Kelas       :  Rosidae
Ordo               :  Myrtales
Famili             :  Thymelaeaceae
Genus             :  Phaleria
Spesies           :  Phaleria macrocarpa
Nama Daerah  Melayu   : Simalakama
                         Jawa       : Makuto rojo

2. MORFOLOGI  DAN ANATOMI  TANAMAN MAHKOTA DEWA
Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (elative), tinggi 1 – 2,5 m
                    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKYwrfkbv4GwSLTEpGPcdhtU6B8SHY7bFr-d3W_-vag-u-Yg9mcZjGPmmlizLy2PltIOgabC37OFW9AcbZCKlrLu_HJeyTUi0WEev0Zu-VZDw7zqSySkSIdAwCc-ZPWaIZHv682CCuAdo/s320/makotadewa.bmp
Gb. Mahkota Dewa sedang berbuah, buahnya masih berwarna hijau yang berarti masih mentah.

1.Pohon
         Pohon Mahkota Dewa sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohonnya bercabang-cabang. Ketinggian pohon rata – rata sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, ela mencapai tinggi lima meter. Mahkota dewa ela sampai berumur puluhan tahun.

2. Akar

Karena Mahkota dewa merupakan tumbuhan Dikotil, maka akarnya adalah akar tunggang dan tersusun atas epidermis, korteks, pembuluh angkut ( Xylem dan Floem) serta empulur.

 
Gambar. Akar tunggang                                    Gb. Penampang akar

3.Batang
          Batang pohon Mahkota Dewa terdiri dari kulit dan kayu (Lignosus). Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batang pohon ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak.






Gb.Percabangan simpodial

Gb. Penampang akar Mahkota Dewa .


Gb. Penampang batang Mahkota Kota
3.Daun
Daunnya tunggal, letaknya  tersusun berhadapan ( folia oposita) bertangkai pendek, bentuknya lanset atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate),permukaan licin, warnya hijau tua, panjang
7-10 cm , lebar 2 – 2,5 cm.
Daun muda warna hijaunya lebih pucat.

Gb. Daun Mahkota dewa
Gb.Penampang daun Mahkota Dewa

Gb. Penampang daun dikotil, Mahkota dewa

4. Bunga
Bunga Mahkota Dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2 – 4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun. Bunga berwarna putih. Bentuknya seperti terompet kecil dan mengeluarkan bau yang harum. Bunga ini mempunyai ukuran sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan.

Bunga majemuk yang tersusun atas 2 -4 bunga,keluar sepanjang tahun, letaknya tersebar di batang atau ketiak daun,mahkota ber- bentuk tabung (tubulosis), berukuran kecil, berwarna putih dan harum (Anonim, 2009).
Merupakan bunga sempurna dan bunga lengkap.


G

Gb. Morologi bunga mahkota dewa
Struktur bunga Mahkota dewa.
·         Bunga simetris nradial
·         Memiliki kepala putik dan benang sari 8 – 10 melekat pada mahkota
·         Kelopak (Calix) bunga kecil 4 buah
·         Mahkota (Corolla) bewarna putih berlekatan 4 buah
 
Gb.Struktur bunga Mahkota dewa
Rumus Bunga :
5.Buah
        Buah mahkota dewa bentuknya bulat dengan diameter 3-5 cm. Permukaan buah licin, dan beralur. Ketika muda, warna buah hijau dan setelah masak, warnanya berubah menjadi merah marun. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji. Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah.

Gb. Buah mahkota yang muda bewarna hijau dan masak bewarna merah

Gb. Epidermis buah yang masak




Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.
Ketebalan kulit sekitar 0,5-1mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah.
Gb. Daging buah, bewarna putih dan tebal

          Cangkang buah adalah batok pada buah. Jadi, cangkang merupakan bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih dan ketebalannya ela mencapai 2mm. Rasa cangkang buah sepat-sepat pahit, tetapi setelah matang rasanya sepat-sepat manis.

Gb. Cangkang buah Mahkota dewa




4.      Biji
       Biji mahkota dewa merupakan bagian yang paling beracun, biji buah berbentuk bulat, dan berwarna putih dibungkos oleh suatu selaput yang bewarna coklat. Diameternya mencapai 2cm. (Turyanto : 2009)
 


Gb. Biji Mahkota dewa

3. BUDI  DAYA TANAMAN MAHKOTA DEWA
          Beberapa mahkota dewa memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya sebagai salah satu tanaman obat yang mendapatkan porsi sangat penting untuk terus dikembangkan. Membudidayakan mahkota dewa tidak sulit. Tanaman ini dapat hidup dengan baik di daerah beriklim tropis. Dengan produksi buah yang tidak mengenal musim, menjadikan mahkota dewa sebagai penambah pendapatan bagi pembudidayaan asalkan dilakukan secara intensif dan elativeel.
          Mahkota dewa dapat dibudidayakan pada ketinggian 10-1200 Mdpl. Lokasi pembudidayaannya sebaiknya di daerah yang jauh dari polusi. Hal ini dilakukan agar tanaman tidak tercemar oleh elati-unsur polutan berupa logam berat, arsen, dll. Untuk kegiatan konservasi tanah, mahkota dewa dapat ditanam di bibir teras pengolahan lahan. Tujuannya, adalah sebagai tanaman penguat teras, menghindari erosi, dan longsor.
         Selain itu, penanaman mahkota dewa dapat ditumpangsari dengan tanaman obat lain. Dalam budidaya mahkota dewa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari resiko yang tidak diinginkan, yaitu pengolahan lahan, pengadaan bibit, penanaman, perawatan, panen,dan pasca panen (Winarto, 2003).
        Mahkota dewa dapat dikembangbiakkan secara elativee dan elativee. Cara elativee dengan menggunakan stek atau cangkok, sedangkan elativee dengan dengan biji. Dan Cara pembiakan elativee atau penyemaian dengan biji biasanya membutuhkan waktu yang lama, tetapi dapat dibiakkan dalam jumlah yang banyak dengan pertumbuhan yang seragam serta memiliki perakaran yang kuat agar tanaman tidak mudah roboh.
      Sedangkan cara pembiakan elativee lebih cepat dengan sifat yang sama dengan induknya. Akan tetapi, pembiakan elativee jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya rendah (Winarto, 2003). Oleh karena itu, untuk saat ini cara yang dianjurkan adalah pembibitam dengan biji. Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit yang ditanam.

Secara umum media tanam yang digunakan haruslah mempunyai sifat yang ringan, murah, mudah didapat, gembur dan subur, sehingga   memungkinkan
pertumbuhan bibit yang optimum.

A.Pengolahan Tanah
        Tanah lebih dulu digemburkan serta diberi pupuk dasar yang berupa pupuk kandang. Takaran pupuk kandang yang diberikan adalah 20ton/ha. Sebagai tanaman keras, mahkota dewa membutuhkan membutuhkan lubang tanam. Lubang tanam digali (30x 30x30 ) cm. Tanah galian ditumpuk terpisah antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama minimal seminggu agar terkena udara luar, sinar matahari, dan hujan.

B. Pengadaan Bibit
          Salah satu aspek penting dalam budidaya mahkota dewa adalah penyiapan bibit. Bibit yang baik akan memberikan hasil yang baik pula selain didukung oleh elati lain. Dalam budidaya mahkota dewa, ada dua jenis bibit yang dapat digunakan, yaitu bibit dari fase elativee (biji) dan bibit dari fase vegetative (stek batang atau cangkok).

C. Penanaman
            Penanaman mahkota dewa tidak tergantung musim, meski demikian, perawatan tanaman merupakan kegiatan yang harus dilakukan setiap petani, terlebih bila usaha budidaya tersebut berorientasi pada hasil yang baik

D. Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak normal untuk  digantikan dengan tanaman yang baik

E. Pemupukan
Pada prinsipnya pupuk yang diberikan pada tanaman obat dianjurkan berasal dari bahan alami atau pupuk elativ seperti pupuk bokasi.
 Penggunaan pupuk kimia atau anorganik tidak dianjurkan karena menimbulkan residu kimia yang dapat muncul pada buah. Padahal buah mahkota dewa dimanfaatkan sebagai bahan obat. Tentu saja hal ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan penggunaannya

F. Penyiraman
         Penyiraman perlu dilakukan pada saat tanam dan sesudah tanam saat tanaman masih kecil. Hanya saja bila hari hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan. Setelah tanaman berumur 6 bulan sesudah tanam, penyiraman elative tidak diperlukan karena jangkauan perakarannya sudah dalam.

G. Penyiangan
          Penyiangan harus dilakukan secara berkala sepanjang tahun karena mahkota dewa termasuk tanaman tahunan. Penyiangan dilakukan melihat gulma yang tumbuh di sekitar tanaman. Umumnya penyiangan pada mahkota dewa
dilakukan 3-4 kali.

4. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MAHKOTA DEWA
          Mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Hama ulat buah memang masih jarang menyerang tanaman mahkota dewa. Sampai saat ini belum ada penelitian atau hasil pengamatan yang menyimpulkan adanya serangan penyakit-penyakit penting pada tanaman mahkota dewa.
         Beberapa gejala serangan penyakit seperti busuk buah oleh jamur Phytoptora infestans memang terkadang tampak, tetapi masih sangat terbatas dan kemunculannya sering disebabkan oleh tanaman yang terlalu banyak ternaungi. Sementara penyakit lain belum pernah tercatat atau dilaporkan.
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman mahkota dewa disarankan dengan pengendalian terpadu dan mengurangi penggunaan pestisida anorganik karena
dikhawatirkan akan menimbulkan efek farmakologis pada tanaman dan
 mengurangi kualitas simplisia yang dihasilkan.
Hama pada Mahkota dewa berupa::
1.      Ulat ( larva) serangga dari jenis  Heortia vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae)
2.       Jamur
3.       Kutu dompol atau kutu putih (Planococus lepelleyi)
 
Gb. Larva serangga Heortia vitessoides Moore
Gb. Kutu dompol atau kutu putih (Planococus lepelleyi)

5.MANFAAT MAHKOTA DEWA BAGI KESEHATAN
         Sebagian masyarakat telah mengetahui manfaat buah mahkota dewa, tetapi belum mengetahui kegunaan dari daunnya. Khasiat dari daun tumbuhan mahkota dewa dapat mengobati penyakit seperti: kanker, tumor, diabetes (kencing manis), pembengkakan prostad, asam urat, darah tinggi (hipertensi), reumatik, batu ginjal, hepatitis, dan penyakit jantung. (Harmanto, 2001).
         Dosis efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya. Untuk penyakit berat seperti kanker dan psoriaris, dosis pemakaian
kadang harus lebih besar agar mendapat manfaat perbaikan. Efek samping yang timbul harus diperhatikan. (Dalimartha, 2004)
.
6.KANDUNGAN KIMIAWI DAN MANFAAT DALAM MAHKOTA DEWA

a. Senyawa Metabolit Sekunder ( Alkaloid, Saponin, Polifenol dan Etanol)
Menurut Kumalaningsih (2008) ekstrak daun Mahkota Dewa mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah alkoloid, saponin dan polifenol. Sementara itu kulit buahnya mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid.
Fungsi dari zat – zat tersebut adalah :
- Alkaloid : bersifat detoksifikan yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh.
- Saponin : yang bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, dapat  
    meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas dan mengurangi
    kadar gula dalam darah.
- Flavonoid : melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
    terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengurangi kandungan
    kolesterol serta mengurangi penimbunan lemak pada dinding pembuluh darah,
    mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner, mengandung antiinflamasi
(antiradang) dan berfungsi sebagai anti-oksidan.

b. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antihistamin
       Penelitian lain mengenai Mahkota Dewa dilakukan oleh Dr. Regina Sumastuti. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa buah Mahkota Dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi, misalnya aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal,
 selesma, dan sesak napas (Sumastuti 2007).

c. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antiradang
         Kandungan Mahkota Dewa juga dapat efektif berfungsi sebagai antiradang (antiinflamasi). Telah diteliti aktivitas antiradang ekstrak n-heksan, etilasetat, etanol dan air buah mahkota dewa dengan dosis 15 mg/kg bb dan 30 mg/kg bb dan isolatnya pada tikus betina galur Wistar (menggunakan λ-karagenan sebagai penginduksi radang). Ekstrak dibuat secara refluks bertingkat menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat, etanol dan air. Ekstrak etanol dengan dosis 30 mg/kg bb menunjukkan aktivitas menghambat radang paling kuat ( Mariani, 2005).

d. Mahkota Dewa Sebagai Zat Oxytosin
         Penelitian yang dilakukan oleh Sumastuti (2007) juga membuktikan bahwa ekstrak buah tanaman Mahkota Dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.

e. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antikanker
          Sebagai tanaman obat, telah banyak dilakukan penelitian untuk menguji kemampuan Mahkota Dewa sebagai obat untuk terapi kanker. Berikut ini adalah beberapa kandungan senyawa dalam Mahkota Dewa yang diteliti untuk melawan kanker.

(1)Ribosome Inactivating Proteins (RIPs)
       Kandungan lain dari Mahkota Dewa yang memiliki kemampuan sebagai penyembuh adalah protein yang disebut sebagai Ribosome Inactivating Proteins (RIPs). Menurut Sismindari (2008), RIPs ini merupakan sekelompok protein toksik dalam tanaman yang mempunyai aktivitas RNA-glycosidase, yaitu kemampuan untuk menghambat sintesis protein pada mamalia. RIPs mempunyai kemampuan memotong DNA superkoil. Adanya aktivitas tersebut menjadikan RIPs sebagai kandidat yang potensial dalam terapi kanker.

(2) Senyawa Gillic Acid (GA)
          Penelitian yang juga mendukung kemampuan Mahkota Dewa dalam mengatasai penyakit kanker dilakukan oleh Faried, et.al (2006). Disebutkan disana bahwa senyawa Gallic Acid yang diisolasi dari buah tanaman Mahkota Dewa menunjukkan hasil yang signifikan dalam menghambat proliferasi sel kanker TE-2
         Dalam percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sel kanker yang diinduksi dengan senyawa GA akan mengalami perubahan morfologi setelah pengamatan 12 jam. Sedangkan induksi terhadap sel non kanker tidak menunjukkan adanya perubahan setelah pengamatan selama 48 jam. Dari hal tersebut disimpulkan bahwa Gillic Acid dari Mahkota Dewa merupakan kandidat
potensial untuk pengobatan penyakit kanker.

(3) Senyawa Etanol
          Sementara itu Bakhriansyah (2004) mengatakan bahwa dalam ekstrak biji tanaman Mahkota Dewa terkandung senyawa Etanol yang bersifat sitotoksik. Uji aktivitas sitotoksik ekstrak Etanol biji Mahkota Dewa pada kultur sel kanker payudara T47D dilakukan dengan metode triphan blue dan diamati secara visual setelah diinkubasi dengan selama 24 jam. Aktivitas penghambatan proliferasi diamati secara visual setelah diinkubasi selama 24, 48 dan 72 jam.
Ekspresi protein COX-2 diamati dengan pengecatan secara imunohistokimia setelah sel diinkubasi selama 24 jam. Dalam percobaan ini didapatkan hasil bahwa senyawa Etanol dapat menghambat proliferasi sel kanker payudara T47D melalui
 penghambatan ekspresi protein COX-2.

f. Mahkota Dewa Untuk Mengobati Diabetes Mellitus
          Penelitian mengenai kemampuan Mahkota Dewa dalam menurunkan gula darah dilakukan oleh Santoso dkk (2006). Percobaan ini menggunakan rebusan daging buah Mahkota Dewa dan menggunakan tikus putih. Hasil yang diperoleh menunjukkan hasil bahwa rebusan daging mahkota Dewa dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Hasil yang serupa juga ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Sugiwati et al. (2006).
          Penurunan kadar glukosa darah akibat perlakuan Mahkota Dewa dapat dijelaskan melalui dua mekanisme utama, yaitu secara intra pankreatik dan ekstra pankreatik.
Mekanisme intra pankreatik bekerja dengan cara memperbaiki (regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta merangsang pelepasan insulin. Kemampuan ini dimiliki oleh alkaloid dan flavonoid. Alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang rusak. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas.
          Mekanisme ekstra pankreatik dapat berlangsung melalui berbagai mekanisme. Alkaloid menurunkan glukosa darah dengan cara menghambat absorbsi glukosa di usus, meningkatkan transportrasi glukosa di dalam darah merangsang sintesis glikogen dan menghambat sintesis gluksoa dengan menghambat enzim glukosa 6-fosfatase, fruktosa 1,6-bifosfatase serta meningkatkan oksidasi glukosa melalui glukosa 6-fosfat dehidrogenase.
         Glukosa 6-fosfatase dan fruktosa 1,6-bifosfatase merupakan enzim yang berperan dalam glukoneogenesis. Penghambatan pada kedua enzim ini akan menurunkan pembentukan glukosa dari substrat lain selain karbohidrat.

























BAB III
 KESIMPULAN

          Tumbuhan Mahkota Dewa ( Phaleria macrocarpa) merupakan tumbuham perdu,  yang yang berkembang biak secara generative dengan biji atau dapat juga secara vegetative dengan cangkok.
Tanaman ini banyak terdapat di Papua Irian Jaya. Ditanam sebagai hiasan atau pohon pelindung dikebun-kebun.
        Mahkota Dewa banyak mengandung zat –zat kimia yang sangat berguna untuk mencegah beberapa penyakit berbahaya, seperti: kanker, diabetes mellitus, asam urat, dan lain sebagainya.
Dosis efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya.
















DATAR PUSTAKA

1.Erlan (2005), Pengaruh Berbagai Media Terhadap Pertumbuhan Bibit
            Mahkota Dewa – Phaleria macrocarpa, di Polibag, Jurnal Akta Agrosia
            Vol. 7 No.2 hlm 72-75 Jul - Des 2005.
2.Kumalaningsih, Sri (2008), Mahkota Dewa Sumber Super Oksidan Dismutase
            (SOD), dalam http://www.antioxidantcentre.com/
3. Sumastuti, Regina (2007), Mahkota Dewa, dalam http://www.tanaman
4. Pudjaatmaka,A.H dan Meity Takdir. 1999. Kamus kimia. Balai Pustaka. Jakarta.


2 komentar:

  1. Maaf, baru belajar bikin blog, akhirnya fot-fotonya ga muncul.

    BalasHapus
  2. boleh ndak saya mint gambarnya itu buat nglengkapin tugas

    BalasHapus