PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mahkota dewa merupakan salah satu tanaman berkhasiat
obat yang memiliki banyak manfaat. Sosok tanaman mahkota dewa berupa perdu
dengan tajuk bercabang-cabang. Umurnya dapat mencapai puluhan tahun dengan masa
produktifitas mencapai 10-20 tahun.
Mahkota dewa
biasa ditanam di pekarangan sebagai
tanaman hias atau dikebun – kebun sebagai tanaman peneduh. Asal tanaman mahkota
dewa masih belum diketahui dengan jelas. Menilik nama botaninya Phaleria
papuana, banyak orang memperkirakan tanaman ini berasal dari tanah Papua, Irian
Jaya.
Menurut
buku Flora of Java terbitan NVP Noordhoff, Groningen, Belanda.hoff, Groningen, Belanda mahkota dewa
berasal dari Papua Nugini. Selain itu, karena ukuran buah relatif besar, para
ahli botani lebih suka menyebutnya Phaleria macrocarpa (macro=besar). Dalam perkembangan
selanjutnya anggota famili Thymelaeaceae ini banyak dibudidayakan di Jawa
Tengah dan Yogyakarta. Mereka menyebutnya makuto dewo, makuto rojo, atau makuto
ratu. Orang Banten menjuluki raja obat.
Tanaman ini dapat
tumbuh subur di tanah yang gembur dan subur pada ketinggian 10 -1.200 m dpl
.Perdu menahun ini tumbuh tegak dengan tinggi
1 – 2,5 m. Daun mahkota dewa
dapat dihasilkan sepanjang tahun sedangkan buahnya tidak berbuah sepanjang
tahun dan buah tumbuhan ini dapat digunakan setelah masak atau berwarna merah.
Daun dan buah tumbuhan mahkota dewa merupakan tanaman obat. (Dalimartha, 2004).
Saat ini Mahkota dewa merupakan salah satu obat tradisional
yang mulai populer di masyarakat yang khasiatnya dipercaya dapat menyembuhkan
berbagai macam penyakit diantaranya Diabetes Melitus (DM), anti oksidan, anti
inflamasi dan masih banyak lagi khasiat Mahkota Dewa bagi beberapa penyakit.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk mengetahui tentang:
1. Klasifikasi
2. Morfologi dan Anatomi
3. Budi daya
4. Hama dan penyakit
5. Manfaat untuk kesehatan
6. Zat kimia yang terkandung di dalam Mahkota
dewa
Bab II
PEMBAHASAN
1.SISTEMATIKA TUMBUHAN MAHKOTA DEWA
Sistematika
tumbuhan mahkota dewa adalah sebagai berikut:.
Kingdom :
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikoti)l
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Thymelaeaceae
Genus : Phaleria
Spesies : Phaleria macrocarpa
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikoti)l
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Thymelaeaceae
Genus : Phaleria
Spesies : Phaleria macrocarpa
Nama Daerah Melayu : Simalakama
Jawa : Makuto rojo
2. MORFOLOGI DAN ANATOMI
TANAMAN MAHKOTA DEWA
Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (elative), tinggi 1 – 2,5 m

Gb. Mahkota Dewa sedang berbuah,
buahnya masih berwarna hijau yang berarti masih mentah.
1.Pohon
Pohon Mahkota Dewa
sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohonnya bercabang-cabang. Ketinggian pohon
rata – rata sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, ela mencapai tinggi
lima meter. Mahkota dewa ela sampai berumur puluhan tahun.
2. Akar
Karena Mahkota dewa merupakan
tumbuhan Dikotil, maka akarnya adalah akar tunggang dan tersusun atas
epidermis, korteks, pembuluh angkut ( Xylem dan Floem) serta empulur.

Gambar. Akar tunggang Gb.
Penampang akar
3.Batang
Batang pohon Mahkota Dewa terdiri dari kulit dan kayu (Lignosus). Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batang pohon ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak.
Batang pohon Mahkota Dewa terdiri dari kulit dan kayu (Lignosus). Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batang pohon ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak.

Gb.Percabangan simpodial

Gb. Penampang akar Mahkota Dewa .

Gb. Penampang batang Mahkota Kota
3.Daun
Daunnya tunggal, letaknya
tersusun berhadapan ( folia oposita) bertangkai pendek, bentuknya lanset
atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip
(pinnate),permukaan licin, warnya hijau tua, panjang
7-10 cm , lebar 2 – 2,5 cm.
Daun muda warna hijaunya lebih pucat.


Gb. Daun Mahkota dewa

Gb.Penampang daun Mahkota Dewa

Gb. Penampang daun dikotil, Mahkota dewa
4. Bunga
Bunga Mahkota Dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun
dalam kelompok 2 – 4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun.
Bunga berwarna putih. Bentuknya seperti terompet kecil dan mengeluarkan bau
yang harum. Bunga ini mempunyai ukuran sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini
keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada
musim hujan.
Bunga majemuk yang tersusun atas 2
-4 bunga,keluar sepanjang tahun, letaknya tersebar di batang atau ketiak
daun,mahkota ber- bentuk tabung (tubulosis), berukuran kecil, berwarna putih
dan harum (Anonim, 2009).
Merupakan bunga sempurna
dan bunga lengkap.

G
Gb. Morologi bunga mahkota dewa
Struktur bunga
Mahkota dewa.
·
Bunga simetris nradial
·
Memiliki kepala putik dan benang sari 8
– 10 melekat pada mahkota
·
Kelopak (Calix) bunga kecil 4 buah
·
Mahkota (Corolla) bewarna putih berlekatan
4 buah


Gb.Struktur bunga Mahkota dewa
Rumus Bunga :

5.Buah
Buah mahkota dewa bentuknya bulat
dengan diameter 3-5 cm. Permukaan buah licin, dan beralur. Ketika muda, warna
buah hijau dan setelah masak, warnanya berubah menjadi merah marun. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.
Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah.


Gb. Buah mahkota yang muda bewarna hijau dan
masak bewarna merah

Gb. Epidermis buah yang masak
Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.
Ketebalan kulit sekitar 0,5-1mm. Daging buah berwarna putih.
Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah.


Gb. Daging buah, bewarna putih dan tebal
Cangkang buah adalah batok pada buah.
Jadi, cangkang merupakan bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang
buah berwarna putih dan ketebalannya ela mencapai 2mm. Rasa cangkang buah
sepat-sepat pahit, tetapi setelah matang rasanya sepat-sepat manis.

Gb. Cangkang buah Mahkota dewa
4.
Biji
Biji mahkota dewa merupakan bagian yang
paling beracun, biji buah berbentuk bulat, dan berwarna putih dibungkos oleh
suatu selaput yang bewarna coklat. Diameternya mencapai 2cm. (Turyanto : 2009)

Gb. Biji Mahkota dewa
3. BUDI DAYA
TANAMAN MAHKOTA DEWA
Beberapa mahkota
dewa memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya sebagai salah satu tanaman
obat yang mendapatkan porsi sangat penting untuk terus dikembangkan.
Membudidayakan mahkota dewa tidak sulit. Tanaman ini dapat hidup dengan baik di
daerah beriklim tropis. Dengan produksi buah yang tidak mengenal musim,
menjadikan mahkota dewa sebagai penambah pendapatan bagi pembudidayaan asalkan
dilakukan secara intensif dan elativeel.
Mahkota dewa dapat
dibudidayakan pada ketinggian 10-1200 Mdpl. Lokasi pembudidayaannya sebaiknya
di daerah yang jauh dari polusi. Hal ini dilakukan agar tanaman tidak tercemar
oleh elati-unsur polutan berupa logam berat, arsen, dll. Untuk kegiatan
konservasi tanah, mahkota dewa dapat ditanam di bibir teras pengolahan lahan.
Tujuannya, adalah sebagai tanaman penguat teras, menghindari erosi, dan
longsor.
Selain itu, penanaman
mahkota dewa dapat ditumpangsari dengan tanaman obat lain. Dalam budidaya
mahkota dewa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terhindar dari
resiko yang tidak diinginkan, yaitu pengolahan lahan, pengadaan bibit,
penanaman, perawatan, panen,dan pasca panen (Winarto, 2003).
Mahkota dewa dapat
dikembangbiakkan secara elativee dan elativee. Cara elativee dengan menggunakan
stek atau cangkok, sedangkan elativee dengan dengan biji. Dan Cara pembiakan elativee
atau penyemaian dengan biji biasanya membutuhkan waktu yang lama, tetapi dapat
dibiakkan dalam jumlah yang banyak dengan pertumbuhan yang seragam serta
memiliki perakaran yang kuat agar tanaman tidak mudah roboh.
Sedangkan cara pembiakan
elativee lebih cepat dengan sifat yang sama dengan induknya. Akan tetapi,
pembiakan elativee jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya rendah
(Winarto, 2003). Oleh karena itu, untuk saat ini cara yang dianjurkan adalah
pembibitam dengan biji. Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan
pertumbuhan bibit yang ditanam.
Secara umum media tanam yang digunakan haruslah mempunyai sifat yang
ringan, murah, mudah didapat, gembur dan subur, sehingga memungkinkan
pertumbuhan
bibit yang optimum.
A.Pengolahan
Tanah
Tanah lebih dulu
digemburkan serta diberi pupuk dasar yang berupa pupuk kandang. Takaran pupuk
kandang yang diberikan adalah 20ton/ha. Sebagai tanaman keras, mahkota dewa
membutuhkan membutuhkan lubang tanam. Lubang tanam digali (30x 30x30 ) cm.
Tanah galian ditumpuk terpisah antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan
bawah. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama minimal seminggu agar terkena
udara luar, sinar matahari, dan hujan.
B. Pengadaan Bibit
Salah satu aspek
penting dalam budidaya mahkota dewa adalah penyiapan bibit. Bibit yang baik
akan memberikan hasil yang baik pula selain didukung oleh elati lain. Dalam
budidaya mahkota dewa, ada dua jenis bibit yang dapat digunakan, yaitu bibit
dari fase elativee (biji) dan bibit dari fase vegetative (stek batang atau
cangkok).
C.
Penanaman
Penanaman mahkota
dewa tidak tergantung musim, meski demikian, perawatan tanaman merupakan
kegiatan yang harus dilakukan setiap petani, terlebih bila usaha budidaya
tersebut berorientasi pada hasil yang baik
D.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya
tidak normal untuk digantikan dengan
tanaman yang baik
E.
Pemupukan
Pada prinsipnya pupuk yang diberikan pada tanaman obat
dianjurkan berasal dari bahan alami atau pupuk elativ seperti pupuk bokasi.
Penggunaan pupuk kimia atau
anorganik tidak dianjurkan karena menimbulkan residu kimia yang dapat muncul
pada buah. Padahal buah mahkota dewa dimanfaatkan sebagai bahan obat. Tentu
saja hal ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan penggunaannya
F.
Penyiraman
Penyiraman perlu
dilakukan pada saat tanam dan sesudah tanam saat tanaman masih kecil. Hanya
saja bila hari hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan. Setelah tanaman berumur
6 bulan sesudah tanam, penyiraman elative tidak diperlukan karena jangkauan
perakarannya sudah dalam.
G.
Penyiangan
Penyiangan harus
dilakukan secara berkala sepanjang tahun karena mahkota dewa termasuk tanaman
tahunan. Penyiangan dilakukan melihat gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.
Umumnya penyiangan pada mahkota dewa
dilakukan 3-4
kali.
4. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MAHKOTA DEWA
Mahkota dewa
mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah
belalang, kutu putih, dan ulat buah. Hama ulat buah memang masih jarang
menyerang tanaman mahkota dewa. Sampai saat ini belum ada penelitian atau hasil
pengamatan yang menyimpulkan adanya serangan penyakit-penyakit penting pada
tanaman mahkota dewa.
Beberapa gejala
serangan penyakit seperti busuk buah oleh jamur Phytoptora infestans memang
terkadang tampak, tetapi masih sangat terbatas dan kemunculannya sering
disebabkan oleh tanaman yang terlalu banyak ternaungi. Sementara penyakit lain
belum pernah tercatat atau dilaporkan.
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman mahkota dewa disarankan
dengan pengendalian terpadu dan mengurangi penggunaan pestisida anorganik
karena
dikhawatirkan
akan menimbulkan efek farmakologis pada tanaman dan
mengurangi kualitas simplisia yang dihasilkan.
Hama pada Mahkota dewa berupa::
Hama pada Mahkota dewa berupa::
1.
Ulat ( larva) serangga dari jenis
Heortia vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae)
2.
Jamur
3.
Kutu dompol atau
kutu putih (Planococus lepelleyi)


Gb. Larva serangga Heortia vitessoides Moore


Gb. Kutu dompol atau kutu putih (Planococus lepelleyi)
5.MANFAAT MAHKOTA DEWA BAGI KESEHATAN
Sebagian masyarakat
telah mengetahui manfaat buah mahkota dewa, tetapi belum mengetahui kegunaan
dari daunnya. Khasiat dari daun tumbuhan mahkota dewa dapat mengobati penyakit
seperti: kanker, tumor, diabetes (kencing manis), pembengkakan prostad, asam urat,
darah tinggi (hipertensi), reumatik, batu ginjal, hepatitis, dan penyakit
jantung. (Harmanto, 2001).
Dosis efektif yang
aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang diminum
biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama beberapa
hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan manfaatnya.
Untuk penyakit berat seperti kanker dan psoriaris, dosis pemakaian
kadang
harus lebih besar agar mendapat manfaat perbaikan. Efek samping yang timbul
harus diperhatikan. (Dalimartha, 2004)
.
6.KANDUNGAN KIMIAWI DAN
MANFAAT DALAM MAHKOTA DEWA
a. Senyawa Metabolit Sekunder ( Alkaloid, Saponin, Polifenol dan Etanol)
Menurut Kumalaningsih (2008) ekstrak daun Mahkota Dewa mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah alkoloid, saponin dan polifenol. Sementara itu kulit buahnya mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid.
a. Senyawa Metabolit Sekunder ( Alkaloid, Saponin, Polifenol dan Etanol)
Menurut Kumalaningsih (2008) ekstrak daun Mahkota Dewa mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah alkoloid, saponin dan polifenol. Sementara itu kulit buahnya mengandung alkaloid, saponin dan flavonoid.
Fungsi dari zat
– zat tersebut adalah :
- Alkaloid : bersifat detoksifikan yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh.
- Saponin : yang bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, dapat
- Alkaloid : bersifat detoksifikan yang dapat menetralisir racun di dalam tubuh.
- Saponin : yang bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, dapat
meningkatkan sistem kekebalan tubuh,
meningkatkan vitalitas dan mengurangi
kadar gula dalam darah.
- Flavonoid : melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
- Flavonoid : melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah,
mengurangi kandungan
kolesterol serta mengurangi penimbunan
lemak pada dinding pembuluh darah,
mengurangi kadar resiko penyakit jantung
koroner, mengandung antiinflamasi
(antiradang) dan berfungsi sebagai anti-oksidan.
b. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antihistamin
Penelitian lain
mengenai Mahkota Dewa dilakukan oleh Dr. Regina Sumastuti. Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa buah Mahkota Dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini
merupakan penangkal alergi, misalnya aneka penyakit alergi yang disebabkan
histamin, seperti biduren, gatal-gatal,
selesma, dan sesak napas (Sumastuti 2007).
c. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antiradang
Kandungan
Mahkota Dewa juga dapat efektif berfungsi sebagai antiradang (antiinflamasi).
Telah diteliti aktivitas antiradang ekstrak n-heksan, etilasetat, etanol dan
air buah mahkota dewa dengan dosis 15 mg/kg bb dan 30 mg/kg bb dan isolatnya
pada tikus betina galur Wistar (menggunakan λ-karagenan sebagai penginduksi
radang). Ekstrak dibuat secara refluks bertingkat menggunakan pelarut n-heksan,
etilasetat, etanol dan air. Ekstrak etanol dengan dosis 30 mg/kg bb menunjukkan
aktivitas menghambat radang paling kuat ( Mariani, 2005).
d. Mahkota Dewa Sebagai Zat Oxytosin
d. Mahkota Dewa Sebagai Zat Oxytosin
Penelitian yang dilakukan oleh
Sumastuti (2007) juga membuktikan bahwa ekstrak buah tanaman Mahkota Dewa mampu
berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim
sehingga persalinan berlangsung lebih lancar.
e. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antikanker
Sebagai tanaman
obat, telah banyak dilakukan penelitian untuk menguji kemampuan Mahkota Dewa
sebagai obat untuk terapi kanker. Berikut ini adalah beberapa kandungan senyawa
dalam Mahkota Dewa yang diteliti untuk melawan kanker.
(1)Ribosome Inactivating
Proteins (RIPs)
Kandungan
lain dari Mahkota Dewa yang memiliki kemampuan sebagai penyembuh adalah protein
yang disebut sebagai Ribosome Inactivating Proteins (RIPs). Menurut Sismindari
(2008), RIPs ini merupakan sekelompok protein toksik dalam tanaman yang
mempunyai aktivitas RNA-glycosidase, yaitu kemampuan untuk menghambat sintesis
protein pada mamalia. RIPs mempunyai kemampuan memotong DNA superkoil. Adanya
aktivitas tersebut menjadikan RIPs sebagai kandidat yang potensial dalam terapi
kanker.
(2) Senyawa Gillic Acid
(GA)
Penelitian yang juga
mendukung kemampuan Mahkota Dewa dalam mengatasai penyakit kanker dilakukan
oleh Faried, et.al (2006). Disebutkan disana bahwa senyawa Gallic Acid yang diisolasi
dari buah tanaman Mahkota Dewa menunjukkan hasil yang signifikan dalam
menghambat proliferasi sel kanker TE-2
Dalam percobaan yang
dilakukan diperoleh hasil bahwa sel kanker yang diinduksi dengan senyawa GA
akan mengalami perubahan morfologi setelah pengamatan 12 jam. Sedangkan induksi
terhadap sel non kanker tidak menunjukkan adanya perubahan setelah pengamatan
selama 48 jam. Dari hal tersebut disimpulkan bahwa Gillic Acid dari Mahkota
Dewa merupakan kandidat
potensial untuk
pengobatan penyakit kanker.
(3) Senyawa Etanol
Sementara itu
Bakhriansyah (2004) mengatakan bahwa dalam ekstrak biji tanaman Mahkota Dewa
terkandung senyawa Etanol yang bersifat sitotoksik. Uji aktivitas sitotoksik
ekstrak Etanol biji Mahkota Dewa pada kultur sel kanker payudara T47D dilakukan
dengan metode triphan blue dan diamati secara visual setelah diinkubasi dengan
selama 24 jam. Aktivitas penghambatan proliferasi diamati secara visual setelah
diinkubasi selama 24, 48 dan 72 jam.
Ekspresi protein COX-2 diamati dengan pengecatan secara
imunohistokimia setelah sel diinkubasi selama 24 jam. Dalam percobaan ini
didapatkan hasil bahwa senyawa Etanol dapat menghambat proliferasi sel kanker
payudara T47D melalui
penghambatan ekspresi protein COX-2.
f.
Mahkota Dewa Untuk Mengobati Diabetes Mellitus
Penelitian mengenai kemampuan Mahkota Dewa dalam menurunkan gula
darah dilakukan oleh Santoso dkk (2006). Percobaan ini menggunakan rebusan
daging buah Mahkota Dewa dan menggunakan tikus putih. Hasil yang diperoleh
menunjukkan hasil bahwa rebusan daging mahkota Dewa dapat menurunkan kadar
glukosa dalam darah. Hasil yang serupa juga ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Sugiwati et al.
(2006).
Penurunan kadar glukosa darah akibat
perlakuan Mahkota Dewa dapat dijelaskan melalui dua mekanisme utama, yaitu
secara intra pankreatik dan ekstra pankreatik.
Mekanisme intra pankreatik bekerja dengan cara memperbaiki (regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta merangsang pelepasan insulin. Kemampuan ini dimiliki oleh alkaloid dan flavonoid. Alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang rusak. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas.
Mekanisme intra pankreatik bekerja dengan cara memperbaiki (regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta merangsang pelepasan insulin. Kemampuan ini dimiliki oleh alkaloid dan flavonoid. Alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang rusak. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas.
Mekanisme ekstra pankreatik dapat
berlangsung melalui berbagai mekanisme. Alkaloid menurunkan glukosa darah
dengan cara menghambat absorbsi glukosa di usus, meningkatkan transportrasi
glukosa di dalam darah merangsang sintesis glikogen dan menghambat sintesis
gluksoa dengan menghambat enzim glukosa 6-fosfatase, fruktosa 1,6-bifosfatase
serta meningkatkan oksidasi glukosa melalui glukosa 6-fosfat dehidrogenase.
Glukosa 6-fosfatase
dan fruktosa 1,6-bifosfatase merupakan enzim yang berperan dalam
glukoneogenesis. Penghambatan pada kedua enzim ini akan menurunkan pembentukan
glukosa dari substrat lain selain karbohidrat.
BAB III
KESIMPULAN
Tumbuhan Mahkota Dewa ( Phaleria
macrocarpa) merupakan tumbuham perdu,
yang yang berkembang biak secara generative dengan biji atau dapat juga
secara vegetative dengan cangkok.
Tanaman ini
banyak terdapat di Papua Irian Jaya. Ditanam sebagai hiasan atau pohon
pelindung dikebun-kebun.
Mahkota Dewa banyak mengandung zat –zat
kimia yang sangat berguna untuk mencegah beberapa penyakit berbahaya, seperti:
kanker, diabetes mellitus, asam urat, dan lain sebagainya.
Dosis
efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat. Untuk obat yang
diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa biji). Selama
beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai dirasakan
manfaatnya.
DATAR PUSTAKA
1.Erlan (2005), Pengaruh
Berbagai Media Terhadap Pertumbuhan Bibit
Mahkota Dewa – Phaleria macrocarpa, di Polibag, Jurnal Akta Agrosia
Vol. 7
No.2 hlm 72-75 Jul - Des 2005.
2.Kumalaningsih, Sri (2008), Mahkota Dewa Sumber Super Oksidan
Dismutase
(SOD), dalam http://www.antioxidantcentre.com/
3. Sumastuti, Regina (2007), Mahkota Dewa, dalam http://www.tanaman
4. Pudjaatmaka,A.H
dan Meity Takdir. 1999. Kamus kimia. Balai Pustaka. Jakarta.
Maaf, baru belajar bikin blog, akhirnya fot-fotonya ga muncul.
BalasHapusboleh ndak saya mint gambarnya itu buat nglengkapin tugas
BalasHapus